2. Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan tiap bid'ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka. (HR. Muslim) Betapapun kulukiskan keagungan-Mu dengan deretan huruf, Kekudusan-Mu tetap meliputi semua arwah Engkau tetap Yang Maha Agung, sedang semua makna, akan lebur, mencair, di tengah keagungan-Mu, wahai Rabku

Senin, 18 Maret 2013

MEMAKNAI IBADAH HAJI

MEMAKNAI IBADAH HAJI
Setiap tahun, pada bulan Dzulhijjah, jutaan kaum Muslim mendatangi Baitullah di kota Makkah. Mereka rela bepergian meskipun Baitullah amat jauh jaraknya dari negeri tempat mereka tinggal dan iklim di kota Makkah sangat berbeda dengan iklim di negeri mereka hidup. Mereka bersedia meninggalkan keluarga, karib-kerabat, kesibukan, dan pekerjaannya untuk memenuhi panggilan Allah. Demikianlah, sebagaimana firman Allah Swt.:
Serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS al-Hajj [22]: 27).
Keutamaan Ibadah Haji Ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang paling utama. Dalam beberapa hadis Rasulullah saw. bersabda:
Tunaikanlah ibadah haji, karena ia akan menyucikan kalian dari dosa-dosa sebagaimana air membersihkan kotoran. (HR ath-Thabrani).
Haji mabrur itu, tidak ada balasan lain untuknya, kecuali surga . (HR Muslim).
Bahkan, bagi wanita muslimah ibadah haji juga dikategorikan sebagai ‘jihad' yang paling utama. Rasulullah pernah ditanya oleh Aisyah r.a., “Kami melihat bahwa jihad merupakan amal yang paling utama. Kalau begitu, tidakkah kami juga berjihad.” Beliau kemudian bersabda:
Akan tetapi, jihad yang paling utama adalah haji mabrur. (HR al-Bukhari).
Menurut para fukaha, haji mabrur adalah hajinya orang yang tidak bermaksiat kepada Allah pada saat menunaikannya. Akan tetapi, menurut al-Fira', haji mabrur adalah orang yang setelah menunaikan ibadah haji tidak bermaksiat kepada Allah. Sementara itu, menurut Ibn 'Arabi, haji mabrur adalah orang yang tidak bermaksiat kepada Allah baik ketika menunaikan ibadah haji maupun setelahnya. Sedangkan menurut al-Hasan, haji mabrur adalah orang yang ketika kembali dari menunaikan ibadah haji menjadi zuhud terhadap dunia dan rindu pada akhirat. (Al-Qurthubi, II/408).
Makna Lain dari Ibadah HajiDi samping sebagai salah satu sarana untuk ber- taqarrub kepada Allah yang bernilai ruhiah ( qîmah rûhiyah ), ibadah haji sesungguhnya mengandung sejumlah ‘simbol' atau makna lain yang cukup dalam. Paling tidak, ada empat pelajaran dari ibadah haji. Pertama , ibadah haji mengajarkan pengorbanan. Setiap Muslim yang menunaikan ibadah haji secara sukarela dan pasrah terdorong untuk mengorbankan apa saja di jalan Allah; baik fisik, harta, bahkan jiwa mereka.
Kedua , ibadah haji mengajarkan ketundukan dan ketaatan secara total kepada Allah. Ketika menunaikan ibadah haji, seorang Muslim secara sukarela dan pasrah mengikuti semua ritual haji; meskipun mungkin melelahkan atau ada hal-hal dari ritual haji itu yang memberatkan hatinya, seperti ketika harus melempar Jumrah atau mencium Hajar Aswad. Inilah yang juga ditunjukkan oleh Umar bin al-Khaththab, ketika beliau hendak mencium Hajar Aswad, “Kamu hanyalah sebongkah batu, sekiranya aku tidak melihat Rasulullah menciummu, aku tidak akan melakukannya.” Itulah bentuk ketaatan Umar kepada Allah dan Rasul-Nya, yang diikuti oleh jutaan kaum Muslim di seluruh dunia, tanpa membantahnya.
Ketiga , ibadah haji mengajarkan persamaan dan persaudaraan. Pada saat ibadah haji, seorang Muslim akan merasakan bahwa kedudukan mereka sama di hadapan Allah; baik orang kaya ataupun yang papa; baik pejabat ataupun rakyat jelata. Pada saat itu, mereka juga merasakan ikatan persaudaraan (ukhuwah Islamiyah) yang erat tanpa menghiraukan perbedaan warna kulit, bahasa, dan asal negara mereka.
Keempat , ibadah haji juga mengajarkan persatuan kaum Muslim di seluruh dunia. Ibadah haji dilakukan pada bulan yang sama, yakni bulan Dzulhijjah. Pada saat ibadah haji, para jamaah haji juga melakukan sejumlah kegiatan ritual secara bersama-sama dalam satu kesempatan. Mereka, misalnya, melakukan wukuf di Arafah pada saat yang sama (9 Dzulhijjah), dan menyembelih kurban, juga pada saat yang sama (10 Dzulhijjah). Sementara itu, pada saat yang sama pula, kaum Muslim di seluruh dunia melaksanakan Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dan merayakan Idhul Adha atau Hari Raya Kurban (10 Dzulhijjah).
Merefleksikan Ibadah HajiAda pertanyaan penting yang seharusnya senantiasa mengusik pikiran kaum Muslim berkaitan dengan ibadah haji ini, yaitu mengapa taqarrub kepada Allah yang biasa dilakukan pada saat ibadah haji tidak dipraktikkan juga di luar ibadah haji? Mengapa kita tidak ber- taqarrub juga kepada Allah pada saat berbisnis, bekerja, menjadi wakil rakyat, atau menjadi penguasa? Mengapa pada saat-saat seperti itu kita sering malah menjauhkan diri dari Allah dengan cara mengabaikan—bahkan mencampakkan—aturan-aturan-Nya?
Di samping itu, mengapa nilai-nilai penting dari ibadah haji di atas tidak diwujudkan juga di luar ibadah haji? Pertama , berkaitan dengan pengorbanan. Mengapa kita rela berkorban apa saja untuk menunaikan ibadah haji (yang mungkin manfaatnya hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri), sementara kita enggan berkorban untuk saudara-saudara kita yang Muslim? Mengapa kita tetap membiarkan orang-orang miskin kelaparan dan tetap bodoh karena tidak pernah mengecap pendidikan?
Kedua , berkaitan dengan ketaatan dan ketundukan. Mengapa kita tunduk dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya saat menunaikan ibadah haji, tetapi kita enggan tunduk dan taat kepada-Nya di luar itu? Apakah Allah hanya layak ditaati hanya dalam ibadah haji? Mengapa kita tidak menaati-Nya di luar itu? Mengapa para penguasa yang sudah bertitel haji masih memakan riba, melakukan korupsi, menipu rakyat, dan membiarkan berbagai kemaksiatan merrajalela di mana-mana? Mengapa mereka tidak berupaya untuk tunduk kepada Allah dengan cara memberlakukan syariat-Nya dalam seluruh aspek kehidupan? Mengapa mereka malah lebih memilih membuat aturan sendiri daripada tunduk dan patuh pada aturan yang telah disediakan oleh Allah?
Ketiga , berkaitan dengan persamaan dan persaudaraan. Mengapa kita merasa sama dan bersaudara dengan sesama Muslim dari berbagai penjuru dunia hanya pada saat ibadah haji, tetapi kita tidak merasakan hal yang sama di luar itu? Mengapa kita tetap membiarkan saudara-saudara kita dizalimi, baik oleh penguasa mereka maupun oleh musuh-musuh mereka; sebagaimana yang terjadi di Irak, Afganistan, Palestina, Uzbekistan, India, Filipina, dan di berbagai belahan dunia lain? Mengapa kita diam dan cuek menyaksikan penderitaan mereka? Mengapa kita dapat menangis ketika berdoa di Baitullah, tetapi kita tidak tersentuh sedikit pun ketika menyaksikan berbagai kezaliman yang menimpa saudara-saudara kita?
Keempat , berkaitan dengan persatuan kaum Muslim. Mengapa kita mampu bersatu serta beramal bersama-sama dan pada saat yang sama ketika menunaikan ibadah haji, tetapi kita bercerai-berai dan bahkan saling bertikai di luar itu? Mengapa kita masih mau dipisahkan oleh faktor nasionalisme dan batas negara, yang notabene buatan manusia, ketimbang dipersatukan dalam satu akidah dan satu wadah negara, sebagaimana selama berabad-abad kaum Muslim pendahulu kita berada dalam satu naungan Kekhilafahan Islam?
Pertanyaan-pertanyaan itulah, antara lain, yang seharusnya menjadi bahan renungan kaum Muslim saat ini, khususnya ketika tibanya musim haji.
Persoalan LainBagi kebanyakan kaum Muslim, ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang sangat penting. Ibadah haji tidak saja merupakan salah satu kewajiban dari Allah—meskipun hanya bagi mereka yang mampu—sebagaimana ibadah-ibadah lainnya yang wajib, tetapi juga merupakan salah satu rukun Islam, yang dipandang menjadi simbol dari kesempurnaan keislaman seorang Muslim. Karena itu, wajar jika kaum Muslim di seluruh dunia rela untuk mengorbankan apa saja agar dapat menunaikan ibadah haji; mereka rela mengeluarkan harta, meninggalkan keluarga dan sanak saudara, menempuh perjalanan yang melelahkan, sekaligus mengorbankan segala urusan yang bersifat duniawi demi memokuskan perhatian untuk ber- taqarrub kepada Allah di Baitullah.
Namun demikian, pada zaman sekarang, menunaikan kewajiban ibadah haji tidaklah mudah; banyak sekali kendala yang harus dihadapi—mulai dari biaya yang mahal, aturan administrasi yang berbelit, hingga bahkan pemberlakukan sistem kuota oleh pemerintah Arab Saudi. Karena itu, meskipun setiap Muslim merindukan untuk dapat berkunjung ke Baitullah, sebagian besar dari mereka tidak dapat mewujudkan keinginannya itu karena berbagai sebab. Faktor biaya yang mahal (karena banyaknya berbagai biaya dan pungutan yang tidak jelas) merupakan kendala umum yang dirasakan oleh mereka yang berniat menunaikan ibadah haji. Namun demikian, dengan adanya sistem kuota, orang kaya pun bisa tidak kesampaian untuk menunaikan ibadah haji. Barangkali, seandainya seorang Muslim rela mengeluarkan uang miliaran rupiah pun, belum tentu dia dapat menunaikan haji selama sistem kuota itu diberlakukan.
Dengan demikian, menunaikan kewajiban ibadah haji pada zaman sekarang ini bagi sebagian besar kaum Muslim sepertinya menjadi sebuah tekanan; baik secara finansial, fisik, maupun psikis (kejiwaan). Padahal, sebelum itupun mereka sudah bersusah-payah mengorbankan berbagai hal untuk dapat menunaikan ibadah haji. Walhasil, para penguasa Muslim saat ini bukan saja tidak menjalankan fungsinya sebagai pelayan umat; tetapi mereka malah banyak menzalimi rakyat; baik secara politik maupun ekonomi, juga secara ritual, terutama dalam konteks ibadah haji. Semestinya para penguasa kaum Muslim memfasilitasi pertemuan akbar tahunan ini bagi terwujudnya izzul islam wal muslimin.
Oleh karena itu, dalam rangka membuat ibadah haji yang merupakan muktamar kaum Muslim sedunia ini lebih bermakna, maka para jama'ah haji dan dan pejabat yang diamanahkan perlu menengok kembali bekal taqwa yang seharusnya mereka miliki. Wallâhu a'lam bis shawâb .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar