MEMAKNAI IBADAH HAJI
Setiap tahun, pada bulan Dzulhijjah, jutaan kaum Muslim
mendatangi Baitullah di kota Makkah. Mereka rela bepergian meskipun Baitullah
amat jauh jaraknya dari negeri tempat mereka tinggal dan iklim di kota Makkah
sangat berbeda dengan iklim di negeri mereka hidup. Mereka bersedia meninggalkan
keluarga, karib-kerabat, kesibukan, dan pekerjaannya untuk memenuhi panggilan
Allah. Demikianlah, sebagaimana firman Allah Swt.:
Serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS al-Hajj [22]: 27).
Keutamaan Ibadah Haji Ibadah haji
merupakan salah satu ibadah yang paling utama. Dalam beberapa hadis Rasulullah
saw. bersabda:
Tunaikanlah ibadah haji, karena ia akan menyucikan kalian dari dosa-dosa sebagaimana air membersihkan kotoran. (HR ath-Thabrani).Haji mabrur itu, tidak ada balasan lain untuknya, kecuali surga . (HR Muslim).
Bahkan, bagi wanita muslimah ibadah haji juga dikategorikan
sebagai ‘jihad' yang paling utama. Rasulullah pernah ditanya oleh Aisyah r.a.,
“Kami melihat bahwa jihad merupakan amal yang paling utama. Kalau begitu,
tidakkah kami juga berjihad.” Beliau kemudian bersabda:
Akan tetapi, jihad yang paling utama adalah haji mabrur. (HR al-Bukhari).
Menurut para fukaha, haji mabrur adalah hajinya orang yang
tidak bermaksiat kepada Allah pada saat menunaikannya. Akan tetapi, menurut
al-Fira', haji mabrur adalah orang yang setelah menunaikan ibadah haji tidak
bermaksiat kepada Allah. Sementara itu, menurut Ibn 'Arabi, haji mabrur adalah
orang yang tidak bermaksiat kepada Allah baik ketika menunaikan ibadah haji
maupun setelahnya. Sedangkan menurut al-Hasan, haji mabrur adalah orang yang
ketika kembali dari menunaikan ibadah haji menjadi zuhud terhadap dunia dan
rindu pada akhirat. (Al-Qurthubi, II/408).
Makna Lain dari Ibadah HajiDi samping
sebagai salah satu sarana untuk ber- taqarrub kepada Allah yang
bernilai ruhiah ( qîmah rûhiyah ), ibadah haji sesungguhnya mengandung
sejumlah ‘simbol' atau makna lain yang cukup dalam. Paling tidak, ada empat
pelajaran dari ibadah haji. Pertama , ibadah haji mengajarkan
pengorbanan. Setiap Muslim yang menunaikan ibadah haji secara sukarela dan
pasrah terdorong untuk mengorbankan apa saja di jalan Allah; baik fisik, harta,
bahkan jiwa mereka.
Kedua , ibadah haji mengajarkan ketundukan dan
ketaatan secara total kepada Allah. Ketika menunaikan ibadah haji, seorang
Muslim secara sukarela dan pasrah mengikuti semua ritual haji; meskipun mungkin
melelahkan atau ada hal-hal dari ritual haji itu yang memberatkan hatinya,
seperti ketika harus melempar Jumrah atau mencium Hajar Aswad. Inilah yang juga
ditunjukkan oleh Umar bin al-Khaththab, ketika beliau hendak mencium Hajar
Aswad, “Kamu hanyalah sebongkah batu, sekiranya aku tidak melihat Rasulullah
menciummu, aku tidak akan melakukannya.” Itulah bentuk ketaatan Umar kepada
Allah dan Rasul-Nya, yang diikuti oleh jutaan kaum Muslim di seluruh dunia,
tanpa membantahnya.
Ketiga , ibadah haji mengajarkan persamaan dan
persaudaraan. Pada saat ibadah haji, seorang Muslim akan merasakan bahwa
kedudukan mereka sama di hadapan Allah; baik orang kaya ataupun yang papa; baik
pejabat ataupun rakyat jelata. Pada saat itu, mereka juga merasakan ikatan
persaudaraan (ukhuwah Islamiyah) yang erat tanpa menghiraukan perbedaan warna
kulit, bahasa, dan asal negara mereka.
Keempat , ibadah haji juga mengajarkan persatuan kaum
Muslim di seluruh dunia. Ibadah haji dilakukan pada bulan yang sama, yakni bulan
Dzulhijjah. Pada saat ibadah haji, para jamaah haji juga melakukan sejumlah
kegiatan ritual secara bersama-sama dalam satu kesempatan. Mereka, misalnya,
melakukan wukuf di Arafah pada saat yang sama (9 Dzulhijjah), dan menyembelih
kurban, juga pada saat yang sama (10 Dzulhijjah). Sementara itu, pada saat yang
sama pula, kaum Muslim di seluruh dunia melaksanakan Puasa Arafah (9 Dzulhijjah)
dan merayakan Idhul Adha atau Hari Raya Kurban (10 Dzulhijjah).
Merefleksikan Ibadah HajiAda pertanyaan
penting yang seharusnya senantiasa mengusik pikiran kaum Muslim berkaitan dengan
ibadah haji ini, yaitu mengapa taqarrub kepada Allah yang biasa
dilakukan pada saat ibadah haji tidak dipraktikkan juga di luar ibadah haji?
Mengapa kita tidak ber- taqarrub juga kepada Allah pada saat berbisnis,
bekerja, menjadi wakil rakyat, atau menjadi penguasa? Mengapa pada saat-saat
seperti itu kita sering malah menjauhkan diri dari Allah dengan cara
mengabaikan—bahkan mencampakkan—aturan-aturan-Nya?
Di samping itu, mengapa nilai-nilai penting dari ibadah haji di
atas tidak diwujudkan juga di luar ibadah haji? Pertama , berkaitan
dengan pengorbanan. Mengapa kita rela berkorban apa saja untuk menunaikan ibadah
haji (yang mungkin manfaatnya hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri), sementara
kita enggan berkorban untuk saudara-saudara kita yang Muslim? Mengapa kita tetap
membiarkan orang-orang miskin kelaparan dan tetap bodoh karena tidak pernah
mengecap pendidikan?
Kedua , berkaitan dengan ketaatan dan ketundukan.
Mengapa kita tunduk dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya saat menunaikan ibadah
haji, tetapi kita enggan tunduk dan taat kepada-Nya di luar itu? Apakah Allah
hanya layak ditaati hanya dalam ibadah haji? Mengapa kita tidak menaati-Nya di
luar itu? Mengapa para penguasa yang sudah bertitel haji masih memakan riba,
melakukan korupsi, menipu rakyat, dan membiarkan berbagai kemaksiatan
merrajalela di mana-mana? Mengapa mereka tidak berupaya untuk tunduk kepada
Allah dengan cara memberlakukan syariat-Nya dalam seluruh aspek kehidupan?
Mengapa mereka malah lebih memilih membuat aturan sendiri daripada tunduk dan
patuh pada aturan yang telah disediakan oleh Allah?
Ketiga , berkaitan dengan persamaan dan persaudaraan.
Mengapa kita merasa sama dan bersaudara dengan sesama Muslim dari berbagai
penjuru dunia hanya pada saat ibadah haji, tetapi kita tidak merasakan hal yang
sama di luar itu? Mengapa kita tetap membiarkan saudara-saudara kita dizalimi,
baik oleh penguasa mereka maupun oleh musuh-musuh mereka; sebagaimana yang
terjadi di Irak, Afganistan, Palestina, Uzbekistan, India, Filipina, dan di
berbagai belahan dunia lain? Mengapa kita diam dan cuek menyaksikan penderitaan
mereka? Mengapa kita dapat menangis ketika berdoa di Baitullah, tetapi kita
tidak tersentuh sedikit pun ketika menyaksikan berbagai kezaliman yang menimpa
saudara-saudara kita?
Keempat , berkaitan dengan persatuan kaum Muslim.
Mengapa kita mampu bersatu serta beramal bersama-sama dan pada saat yang sama
ketika menunaikan ibadah haji, tetapi kita bercerai-berai dan bahkan saling
bertikai di luar itu? Mengapa kita masih mau dipisahkan oleh faktor nasionalisme
dan batas negara, yang notabene buatan manusia, ketimbang dipersatukan dalam
satu akidah dan satu wadah negara, sebagaimana selama berabad-abad kaum Muslim
pendahulu kita berada dalam satu naungan Kekhilafahan Islam?
Pertanyaan-pertanyaan itulah, antara lain, yang seharusnya
menjadi bahan renungan kaum Muslim saat ini, khususnya ketika tibanya musim
haji.
Persoalan LainBagi kebanyakan kaum Muslim,
ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang sangat penting. Ibadah haji tidak
saja merupakan salah satu kewajiban dari Allah—meskipun hanya bagi mereka yang
mampu—sebagaimana ibadah-ibadah lainnya yang wajib, tetapi juga merupakan salah
satu rukun Islam, yang dipandang menjadi simbol dari kesempurnaan keislaman
seorang Muslim. Karena itu, wajar jika kaum Muslim di seluruh dunia rela untuk
mengorbankan apa saja agar dapat menunaikan ibadah haji; mereka rela
mengeluarkan harta, meninggalkan keluarga dan sanak saudara, menempuh perjalanan
yang melelahkan, sekaligus mengorbankan segala urusan yang bersifat duniawi demi
memokuskan perhatian untuk ber- taqarrub kepada Allah di Baitullah.
Namun demikian, pada zaman sekarang, menunaikan kewajiban
ibadah haji tidaklah mudah; banyak sekali kendala yang harus dihadapi—mulai dari
biaya yang mahal, aturan administrasi yang berbelit, hingga bahkan pemberlakukan
sistem kuota oleh pemerintah Arab Saudi. Karena itu, meskipun setiap Muslim
merindukan untuk dapat berkunjung ke Baitullah, sebagian besar dari mereka tidak
dapat mewujudkan keinginannya itu karena berbagai sebab. Faktor biaya yang mahal
(karena banyaknya berbagai biaya dan pungutan yang tidak jelas) merupakan
kendala umum yang dirasakan oleh mereka yang berniat menunaikan ibadah haji.
Namun demikian, dengan adanya sistem kuota, orang kaya pun bisa tidak kesampaian
untuk menunaikan ibadah haji. Barangkali, seandainya seorang Muslim rela
mengeluarkan uang miliaran rupiah pun, belum tentu dia dapat menunaikan haji
selama sistem kuota itu diberlakukan.
Dengan demikian, menunaikan kewajiban ibadah haji pada zaman
sekarang ini bagi sebagian besar kaum Muslim sepertinya menjadi sebuah tekanan;
baik secara finansial, fisik, maupun psikis (kejiwaan). Padahal, sebelum itupun
mereka sudah bersusah-payah mengorbankan berbagai hal untuk dapat menunaikan
ibadah haji. Walhasil, para penguasa Muslim saat ini bukan saja tidak
menjalankan fungsinya sebagai pelayan umat; tetapi mereka malah banyak menzalimi
rakyat; baik secara politik maupun ekonomi, juga secara ritual, terutama dalam
konteks ibadah haji. Semestinya para penguasa kaum Muslim memfasilitasi
pertemuan akbar tahunan ini bagi terwujudnya izzul islam wal muslimin.
Oleh karena itu, dalam rangka membuat ibadah haji yang
merupakan muktamar kaum Muslim sedunia ini lebih bermakna, maka para jama'ah
haji dan dan pejabat yang diamanahkan perlu menengok kembali bekal taqwa yang
seharusnya mereka miliki. Wallâhu a'lam bis shawâb .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar