2. Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan tiap bid'ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka. (HR. Muslim) Betapapun kulukiskan keagungan-Mu dengan deretan huruf, Kekudusan-Mu tetap meliputi semua arwah Engkau tetap Yang Maha Agung, sedang semua makna, akan lebur, mencair, di tengah keagungan-Mu, wahai Rabku

Minggu, 14 April 2013

magetan

SURYA Online, LAMONGAN - Sampai hari ini belum ada data resmi mengenai kerugian akibat banjir yang melanda sebagian wilayah Lamongan di empat kecamatan.

Hingga kini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamongan belum juga merilis kerugian yang telah dialami masyarakat meski banjir sudah semakin surut.

Sementara yang masuk hanyalah jumlah lahan dan rumah yang tergenang luapan air Bengawan Solo. Terdata sebanyak 1.304 unit rumah  dengan ketinggian 5-50 cm dan  sebanyak 2.462 KK.

Di Laren meliputi 9 desa 613 rumah Pelangwot, Laren, Pesanggrahan, Centini, Mojoasem, Keduyung, Bulutigo, Durikulon, Siser. Kecamatan Babat di tiga  desa/kelurahan, 685 rumah (Desa Truni, Kelurahan Babat dan Banaran).Kecamatan Maduran Desa Gedangan 2 rumah. Kecamatan Karangbinangun Desa Bogobabadan 4 rumah.

Sekretaris BPBD, Suprapto dikonfirmasi Minggu (14/4/2013) menyatakan, pihaknya belum mendapatkan laporan terkait kerugian akibat banjir kemarin. Sejauh ini masih sebatas jumlah rumah dan lahan yang tergenang serta pendataan yang masih berjalan.

“Konsentrasinya bagaimana mendata mereka terkait kebutuhan mendesak akibat banjir dan mengembalikan mental kepercayaan setelah masyarakat di landa banjir,”kata Suprapto.

Masing – masing camat, yakni empat kecamatan yang sebagian wilayahnya tergenang itu memberikan laporan hanyalah jumlah rumah warga dan lahan serta wilayah yang tergenang. Surat yang masuk hanya menyebut  itu. Sementara kerugian belum juga dilaporkan.

“Mungkin masih melakukan pendataan kerugian. Tapi yang penting bagaimana masyarakat memperoleh perhatian cepat dari pemerintah daerah terlayani,”tambahnya.

Untuk diketahui, banjir akibat luapan Bengawan Solo melanda empat kecamatan dan puluhan desa seminggu lalu. Banjir pada April ini tetap tidak separah seperti apa yang dialami Bojonegoro dan Tuban. Bahkan tidak sampai terjadi pengungsian dari korban banjir. Air yang menggenangi rumah warga rata – rata hanya 30 cm hingga 60 cm.
- See more at: http://surabaya.tribunnews.com/2013/04/14/kerugian-akibat-banjir-empat-kecamatan-di-lamongan-belum-diketahui#sthash.ymmZlpcf.dpuf
SURYA Online, MAGETAN-Guru Magetan mencurigai ada drama panjang di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan terkait belum dibayarnya, sedikitnya Rp 38 miliar tunjangan profesi pendidik (TPP). Karena itu, guru Magetan mendukung langkah Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Irjen Kemendikbud) berkoordinasi dengan KPK untuk mengusut hak guru itu.

"Sudah dua tahun lebih TPP kami belum dibayar, estimasi total mencapai Rp 38 miliar. Alasan Dinas Pendidikan (Dindik) tidak masuk akal. Untuk itu, kita akan galang dukungan dengan ribuan guru korban Dindik ini,"kata Ketua Musyawarah Guru Mata pelajaran Olahraga (MGMPOr) Kabupaten Magetan Agus Tholib didampingi pimpinan Dewan Pendidikan setempat Dian Kustiani kepada Surya, Rabu (23/1/2013).

Agus Tholib merinci, dana TPP guru di Magetan yang belum cair dari jenjang TK hingga SMP selama dua bulan ditambah tiga bulan untuk guru SMA/SMK, ditambah Rp 2,5 juta kekurangan gaji guru SMA/SMK.

"Guru penerima TPP sedikitnya 7200 orang, estimasi per guru penerima, terendah Rp 2,4 juta dikalikan dua bulan diperoleh angka sebesar Rp 34,56 miliar. Ditambah kekurangan gaji teman guru SMA/SMK per guru Rp 2,5 juta, jumlahnya akan melebihi angka Rp 38 miliar,"jelas guru SMPN 2 Plaosan, Magetan ini.

Karena itu, guru Magetan minta Dindik, Pemkab, BRI, Bank Jatim, koordinator angkatan secara sinergi bisa menjelaskan secara jujur belum dibayarkannya dana TPP yang sudah mandeg selama lebih dua tahun ini, langsung dihadapan sekitar 7200 guru olahraga SMP.

"Hal ini biar tidak jadi fitnah. Karena daerah lain di Jawa Timur dan Jawa Tengah tidak ada masalah. Semua TPP beres total. Dana TPP bermasalah hanya di Kabupaten Magetan,"kata Agus Tholib.         

Dikatakan Agus Tholib, informasi dari Koordinator angkatan dan Dindik, Jumat (18/1/2013) kemarin. Pencairan kekurangan dana TPP tahun 2012 lalu itu akan diberikan tahun 2014 mendatang. "Dengan demikian anggaran tahun 2013 ini dipastikan akan ada drama baru untuk menyiksa guru di Kabupaten Magetan. Siapa sutradara ini semua,"tanyanya.

Langkah Irjen Kemendikbud untuk koordinasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendapat dukungan penuh guru korban "penyunatan" dana TPP yang sedikitnya mencapai Rp 38 miliar ini. "Yang jelas menurut Irjen Kemendikbud dana itu sudah ditransfer ke rekening daerah. Tapi daerah lain bisa beres, tapi di Kabupaten Magetan dana TPP itu tidak karuan,"kata Agus merilis pernyataan Irjen Kemendikbud.

Irjen kemendikbud, kata Agus, seperti diketahuinya dari beberapa mass media, dana TPP guru tahun 2012 itu sudah di transfer Kemenkeu ke seluruh rekening Pemkab/Pemkot. Seluruhnya total dana itu mencapai Rp 40 miliar. Dari nilai sebesar itu yang diduga diendapkan Pemkab/Pemkot mencapai Rp 10 triliun.

Untuk itu, lanjut dia, Irjen Kemendikbud segera koordinasi dengan KPK untuk menelusuri kemana larinya bunga simpanan dana TPP yang menjadi hak guru sebesar Rp 10 triliun itu. Tindakan Irjen Kemendikbud dilakukan semata bukan untuk mengoptimalkan sisi pencegahan, tapi juga aspek penindakan.

"Kita akan dukung Irjen Kemendikbud mengungkap drama pemotongan dana TPP dan gaji guru ini. Mudah-mudah tindakan ini tidak hanya "lips service" (omong saja). Sehingga drama penyiksaan terhadap ribuan guru di Magetan bisa segera berakhir,"harap Agus Tholib.
- See more at: http://surabaya.tribunnews.com/2013/01/23/guru-magetan-dukung-kpk-usut-dana-tpp-rp-38-m#sthash.AyOPWaVs.dpuf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar