2. Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan tiap bid'ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka. (HR. Muslim) Betapapun kulukiskan keagungan-Mu dengan deretan huruf, Kekudusan-Mu tetap meliputi semua arwah Engkau tetap Yang Maha Agung, sedang semua makna, akan lebur, mencair, di tengah keagungan-Mu, wahai Rabku

Senin, 18 Maret 2013

Sekelumit Tentang Syurga Dan Neraka

Sekelumit Tentang Syurga Dan Neraka
SYURGA
* Nilai dunia dibanding syurga: Firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa' : 77 yang artinya : "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun."
Rasulullah SAW bersabda : "Tidaklah dunia ini dibanding kenikmatan akhirat kecuali seperti salah seorang diantaramu yang mencelupkan jarinya ke dalam air laut, maka lihatlah berapa banyak air yang ada di jarinya." (HR. Muslim).
* Keindahannya
Rasulullah SAW pernah menjelaskan keindahan syurga diantaranya adalah : "Batu batanya dari emas dan perak, perekat (batu-batu) nya berupa misik harum, kerikilnya berupa permata dan yakut dan tanahnya dari za'faran. Barangsiapa memasukinya akan mendapatkan kenikmatan dan tidak pernah celaka, kekal tidak mati, pakaiannya tidak akan usang dan selalu awet muda." (Hadits shahih riwayat Ahmad, dan Tirmidzi).
* Makanan, minuman dan pakaian penghuninya
Firman Allah SWT dalam Surah Al-Waqi'ah : 20 - 21 yang artinya : "Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan."
Dalam Surah Al-Insan : 5 yang artinya : "Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur."
Juga dalam Surah Al-Insan : 21 yang artinya : "Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih."
* Bidadari
Firman Allah dalam Surah Ad-Dukhan : 54 yang artinya : "Demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari."
Allah SWT, dalam Surah Ar-Rahmaan juga mensifati mereka dengan cantik dan jelita, putih bersih dipingit dalam rumah, dan belum pernah tersentuh oleh jin maupun manusia (ayat 65 - 69).
Rasulullah SAW juga bersabda : "Jika wanita penghuni syurga turun ke dunia ini, tentu antara langit dan bumi ini akan bersinar, dan bau harumnya akan bersenar memenuhinya dan mahkota di kepalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya." (HR. Bukhari).
NERAKA
* Kedalamannya
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata : "Ketika sedang bersama Rasulullah, kami mendengar sesuatu jatuh. Maka beliau bersabda, 'Tahukah kalian suara apa itu?'. Kami menjawab, 'Allah dan RasulNya lebih tahu'. Beliau bersabda, 'Itu adalah suara batu yang dilemparkan ke neraka semenjak 70 tahun yang lalu, dan ia sekarang masih meluncur ke (dasar) neraka." (HR. Muslim).
* Panasnya
Rasulullah SAW bersabda: "Api kita adalah satu bagian diantara 70 bagian dari api neraka (1/70)." (HR. Muslim).
* Makanan, minuman dan pakaian penghuninya
Firman Allah dalam Surah Al-Waqi'ah : 51 - 55 yang artinya : "Kemudian sesungguhnya kamu hai orang yang sesat lagi mendustakan, benar-benar akan memakan pohon zaqqum, dan akan memenuhi perutmu dengannya. Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas. Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum."
Rasulullah SAW bersabda : "Seandainya setetes zaqqum jatuh ke dunia, tentu akan merusak kehidupan penduduk bumi. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang menjadikannya sebagai makanan?." (Hadits hasan shahih menurut Tirmidzi).
Dan FirmanNya dalam Surah Muhammad : 15 yang artinya : "...dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya."
Dan FirmanNya juga dalam Surah Al-Hajj : 19 - 20 yang artinya : "Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka)."
Ibrahim At-Taimi jika membaca ayat ini, ia berkata, "Maha suci Dzat yang telah menciptakan pakaian dari api."
(Akhwalul Jannah wa An-Naar, Sulaiman A).
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Tingkatan Puasa

Tingkatan Puasa
submitted by
:
sumber
:
redaksi

Assalaamu\'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya\' Ulumuddin membagi puasa dalam tiga tingkatan, antara lain :

1. Puasanya orang Awam
2. Puasanya orang Khusus
3. Puasanya orang Super Khusus.


PUASANYA ORANG AWAM

Puasanya orang awam adalah puasa yang hanya menahan perut (dari makan dan minum) dan kemaluan dari memperturutkan syahwat. Rasulullah SAW bersabda, \"Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali haus dan lapar.\" (Hadits Riwayat Turmudzi)

Imam Al-Ghazali berkata :
\"Berapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya itu selain lapar dan haus. Sebab, hakikat puasa itu adalah menahan hawa nafsu, bukanlah sekedar menahan lapar dan haus. Boleh jadi orang tersebut memandang yang haram, menggunjing dan berdusta. Maka yang demikian itu membatalkan hakikat puasa.\"

Para Ulama berkata:
\"Betapa banyak orang yang berpuasa padahal ia berbuka (tidak berpuasa) dan betapa banyak orang yang berbuka padahal ia berpuasa.\" Yang dimaksud dengan orang yang berbuka tetapi berpuasa ialah menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan dosa sementara ia tetap makan dan minum. Sedangkan yang dimaksud dengan berpuasa tapi berbuka ialah yang melaparkan perutnya sementara ia melepaskan kendali bagi anggota tubuh yang lain.\"


PUASANYA ORANG KHUSUS

Yaitu puasanya orang-orang sholeh, yang selain menahan perut dan kemaluan juga menahan semua anggota badan dari berbagai dosa, kesempurnaannya ada 7 perkara.

1 Menundukkan pandangan dan menahannya dari memandang hal yang dicela dan dibenci, kesetiap hal yang dapat menyibukkan diri dari mengingat Allah SWT.

2 Menjaga lisan dari membual, dusta, ghibah, perkataan kasar, pertengkaran, perdebatan dan mengendalikannya dengan diam, menyibukkan dengan dzikrullah dan membaca Al-qur\'an.

3 Menahan pendengaran dari mendengarkan setiap hal yang dibenci (makruh) karena setiap hal yang diharamkan perkataannya diharamkan pula mendengarnya.

4 Menahan berbagai anggota badan lainnya dari berbagai dosa seperti tangan, kaki dari hal-hal yang dibenci, menahan perut dari memakan makanan yang subhat(meragukan) pada saat tidak puasa (berbuka).

5 Tidak memperbanyak makanan yang halal pada saat berbuka sampai penuh perutnya, karena tidak ada wadah yang dibenci oleh Allah kecuali perut yang penuh dengan makanan halal. Bagaimana puasanya bisa bermanfaat untuk menundukkan musuhnya (setan) dan mengalahkan syahwatnya jika orang yang berpuasa pada saat berbuka melahap berbagi makanan sebagai pengganti makanan yang tidak dibolehkan memakannya pada siang hari?. Bahkan menjadi tradisi menyimpan dan mengumpulkan makanan sebagai persiapan pada saat berbuka padahal makanan yang tersimpan itu melebihi kapasitas perut kita bahkan mungkin bisa untuk makanan satu minggu, astaghfirullah.

6 Mengurangi Tidur. Banyak orang yang termakan oleh hadits dhaif (lemah) \"bahwa tidurnya orang berpuasa adalah ibadah\", padahal telah menjadi kebiasaan Rasulullah SAW, \"apabila bulan Ramadhan tiba, beliau melipat alas tidurnya (mengurangi tidur), mengetatkan sarungnya (yakni bersungguh-sungguh dalam ibadah), serta mengajak keluarganya berbuat seperti itu pula\" (HR. Bukhari-Muslim)

7 Cemas dan harap. Hendaklah hatinya dalam keadaan \"tergantung\" dan \"terguncang\" antara cemas dan harap karena tidak tahu apakah puasanya diterima dan termasuk golongan yang Muqorrobin atau ditolak sehingga termasuk orang yang dimurkai oleh Allah SWT. Hendaklah hatinya selalu dalam keadaan demikian setiap selesai melakukankebaikan.

Hadits-hadits Rasulullah SAW

\"Puasa adalah perisai (tabir penghalang dari perbuatan dosa). Maka apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan sesuatu yang keji dan janganlah ia berbuat jahil.\" (Hadits Riwayat Bukhari - Muslim)

\"Lima hal yang dapat membatalkan puasa: berkata dusta, ghibah (menggunjing orang), memfitnah, sumpah dusta dan memandang dengan syahwat.\" (Hadits Riwayat Al-Azdiy)

\"Barangsiapa yang tidak dapat meninggalkan perkataan kotor dan dusta selama berpuasa, maka Allah SWT tidak berhajat kepada puasanya.\" (Hadits Riwayat Bukhari)

\"Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan, keduanya bersekutu dalam perbuatan dosa.\" (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)


PUASANYA ORANG KHUSUS LEBIH DARI KHUSUS

Yaitu puasa hati dari berbagai keinginan yang rendah dan pikiran-pikiran yang tidak berharga, juga menjaga hati dari selain Allah secara total. Puasa ini akan menjadi \"batal\" karena pikiran selain Allah (pikiran tentang dunia). Ini adalah puasanya para Nabi dan Rasul Allah SWT.

Nah bagaimana dengan kualitas puasa kita nanti?

Wassalaamu\'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

REZKI ALLAH SWT

REZKI ALLAH SWT
Nabi SAW mengundang para sahabat untuk menghadiri walimatul ursy yang diadakan beliau dengan seorang wanita yang menjadi istrinya. Para sahabat hadir dan begitu mereka menyaksikan tentang rupa makanan yang dijamukan oleh Rasulullah SAW, mereka tak tahan untuk tidak memperbincangkannya.
" Darimana Rasulullah SAW akan mampu memenuhi kebutuhan hidup dari para istri-istrinya ? coba lihat, jamuan walimahnya saja cuma seperti itu ?"
Rasulullah SAW diam saja. Beliau bukan tidak tahu apa yang diperbincangkan oleh para sahabat saat itu. Usai menunaikan sholat, Rasulullah SAW menceritakan suatu kisah kepada para sahabat yang hadir.
" Aku ingin menceritakan suatu kisah perihal rejeki kepada kalian. Kisah ini diceritakan oleh malaikat Jibril kepadaku. Bolehkah aku meneruskan kisah ini kepada kalian ?"
Rasulullah SAW kemudian memulai kisahnya.
" Suatu ketika Nabi sulaiman a.s melakukan sholat ditepi pantai. USai sholat, beliau melihat ada seekor semut sedang berjalan di atas air sambil membawa daun hijau. Beliau yang mengerti bahasa binatang mendengar si semut memanggil-manggil si katak. Tak berapa lama kemudian, lalu seekor katak muncul. Ada apa gerangan dengan si katak itu sehingga si semut terus-menerus memanggilnya tadi ? Nabi Sulaiman menyaksikan bahwa begitu si katak muncul, katak itu langsung saja menggendong sang semut masuk ke dalam air menuju dasar laut.
Ada apa di dasar laut ? Semut itu menceritakan kepada Nabi Sulaiman a.s bahwa di sana ada berdiam seekor ulat. Sang ulat menggantungkan rejekinya kepada si semut.
" Sehari dua kali aku diantar oleh malaikat ke dasar laut untuk memberi makanan kepada ulat itu ". Demikian si semut memberikan penjelasannya kepada Nabi Sulaiman a.s. " Siapakah malaikat itu, hai semut ?" tanya Nabi Sulaiman kepada si semut dengan penuh selidik. " Si katak sendiri. MAlaikat menjelmakan dirinya menjadi katak yang kemudian mengantarkan aku menuju dasar laut ".
Setiap selesai menerima kiriman daun hijau dan melahapnya, si ulat tak lupa memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT, " Maha Besar Allah yang men-takdir-kan aku hidup di dasar laut ". Dalam mengakhiri ceritanya itu, Rasulullah SAW memberi pandangannya.
" Jika ulat saja yang hidupnya di dasar laut, Allah SWT masih tetap memberinya makanan, maka apakah Allah SWT tega menelantarkan umat Muhammad soal rejeki dan rakhmatnya ?"
Dikutip: Mutiara Hikmah 1001 kisah/1
Oleh : Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

D O S A

D O S A
"Maka masing-masing ( mereka itu ) kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang di timpa suara keras yang mengguntur , dan diantara mereka kami benamkan kedalam bumi dan diantara mereka ada yang kami tenggelamkan dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri ". (QS.Al Ankabut:40)

Penjelasan
Sumber dosa berasal dari dua hal yaitu ;
  1. Meninggalkan perintah Allah SWT
  2. Melanggar larangan Allah SWT
Manusia seakan menjadi tabiatnya untuk berbuat dosa sejak manusia pertama Adam a.s yang melanggar larangan Allah SWT karena bisikan iblis, maka manusia cenderung berbuat dosa, kecuali para Rasul yang maksumu yapeni terjaga dari dosa. Meskipun manusia cenderung berbuat dosa, kita tidak mengenal dosa turunan. Karena setiap anak Adam lahir dalam keadaan fitrah dan suci. Dan konsep Islam mengajarkan agar manusia selalu bertaqwa dengan melaksanakan perintah Allah SWT dan meningglkan larangan Allah SWT. Tetapi kemudian dia masih berbuat dosa karena kelemahannya, maka Allah SWT memberikan jalan-jalan penghapus dosa dari mulai istighfar sampai kepada taubat nasuha. Rasulullah SAW bersabda: "Setiap anak Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik pembuat dosa adalah mereka yang bertaubat". (HR.Tirmidzi,Hasan).
Bedanya iblis yang melanggar perintah Allah SWT tidak bertaubat sedangkan Adam melanggar larangan Allah SWT dia menyadari dan bertaubat. Bahkan Rasulullah SAW bersabda: "Kalau kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah SWT akan mengganti kalian dengan kaum yang lain pembuat dosa, tetapi mereka beristighfar dan Allah SWT mengampuni mereka".( HR.Muslim).
Demikian nilai dosa itu kalau disadari akan menghantarkan manusia kepada ketaatan, karena pendosa itu jiwanya selalu gelisah dan kegelisahan itu yang menghantarkan dia kembali kepada Allah SWT dengan bertaubat.
Berbeda dengan ahli bid`ah, karena mereka merasa benar sehingga tidak terasa kalau dia berbuat dosa. Oleh karena itu Imam Sofyan Atstsani berkata, "Seorang tukang bid`ah itu lebih disukai oleh syetan dari seribu pendosa ".
Suatu bangsa yang berlumuran dosa bisa menjerumuskannya ke jurang malapetaka sebagaimana terjadi dengan malapetaka yang menimpa bangsa-bangsa terdahulu seperti tertera pada ayat diatas. Apabila bangsa kita ingin terhindari dari malapetaka maka segala bentuk dosa harus diupayakan untuk dijauhkan dari kehidupan berbangsa. Kenapa manusia cenderung berbuat dosa dan apa bahayanya perbuatan dosa itu, kita sambung insya Allah SWT pada edisi berikut .
D O S A
Bagian II
"Maka masing-masing ( mereka itu ) kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang di timpa suara keras yang mengguntur , dan diantara mereka kami benamkan kedalam bumi dan diantara mereka ada yang kami tenggelamkan dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri ". (QS.Al Ankabut:40)

Penjelasan
Sebagaimana orang senang berbuat kebajikan karena dorongan untuk memperoleh pahala dan balasan serta bertaubat positif dalam diri orang tersebut. Demikian pula berbuat dosa, terdapat beberapa sebab kenapa orang muslim itu, yang seharusnya menjauhi dosa, ternyata terjerumus dalam lumpur dosa.
Pertama, karena dia lupa kepada Allah SWT sehingga tidak terdapat penghalang dalam dirinya untuk terdorong melakukan perbuatan dosa demi meraih kesenangan sesaat. Maka dari itu, kalau dia sadar Allah SWT memperhatikannya, niscaya dia akan malu melakukannya karena merasa diperhatikan Allah SWT. Itulah sebab kenapa orang cenderung bersembunyi ketika melakukan maksiat. Allah SWT mengingatkan, jangan lupa kepada Allah SWT, nanti kamu dihukum terhadap dirimu sendiri (QS.Al Hasyr:19).
Kedua, dia lupa bahwa Allah SWT yang telah mengkaruniai segala sesuatu kepadanya diaman seharusnya dia berterima kasih melalui ketaatan-ketaatan yang dilakukan untuk-Nya, ternyata justru ditinggalkan bahkan tidak jarang malah melanggar larangan-Nya. Hal itu seperti pernah disebutkan oleh Nabi Zakaria kepada Bani Israil ; Bagaimana kalau kalian mempunyai budak atau pegawai yang kalian penuhi segala kebutuhannya ternyata dia menyeleweng dan bekerja untuk orang lain. Tentu hal itu tidak wajar dan tidak pantas serta layak diskors atau dihukum. Nikmat yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya tidak terhitung banyaknya (QS.Ibrahim:34).
Ketiga, dia lupa kalau Allah SWT itu selain Maha Pengasih juga keras siksaan-Nya. Banyak tukang atau si pendosa ketika diingatkan agar berhenti dari maksiatnya serta merta di menjawab Allah SWT itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang tapi dia masih terus bermaksiat ria (QS.Al Maidah:98).
Keempat, bahwa setiap perbuatan manusia ada catatan yang ditulis oleh malaikat sebagai bukti seluruh perbuatan manusia baik buruknya (QS Qof:17-18) Tidak ada satupun perbuatan kita yang terlepas dari perhatian mereka. Bahkan dihari akhirat kelak sekuruh anggota tubuhnya akan bersaksi ; lidah, tangan, kaki dll (QS Annur:4). Kalau orang merasa bahwa dia telah dijasai, diperhatikan dan bahkan dihadapkan kepada ancaman, niscaya dia akan berhati-hati ntuk tidak terjerumus kedalam kubangan dosa yang berakibat sangat fatal didunia dan apalagi di akhirat.
Selanjutnya kita akan berbicara mengenai macam-macam dosa dan akibat buruk yang akan ditimbulkannya.
D O S A
Bagian III
"Maka masing-masing ( mereka itu ) kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang di timpa suara keras yang mengguntur , dan diantara mereka kami benamkan kedalam bumi dan diantara mereka ada yang kami tenggelamkan dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri ". (QS.Al Ankabut:40)

Penjelasan
Pada kesempatan ini kami akan menyebutkan macam-macam dosa terutama dosa besar. Karena Nabi SAW pernah mengatkan bahwa antara jum`at sampai jum`at berikutnya, antara Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya terdapat pengampunan dosa selama ditinggalkan dosa besar.
Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama` tentang jumlah macam-macam dosa besar itu. Ada yang mengatakan 3, ada yang mengatakan 7, ada pula 9 dan ada pula 70 sampai ada 300 macam.
Di antaranya disebutkan Rasulullah SAW seperti yang di riwayatkan oleh Imam Muslim, syirik kepada Allah SWT, membunuh anak karena takut miskin, men-zina-hi istri tetangga, durhaka terhadap kedua orang tua, bersaksi bohong, membunuh, bermain sihir, memakan harta anak yatim dll.
Adapun bahaya yang di timbulkan oleh maksiat atau perbuatan dosa itu, di sebutkan oleh Ibnu Qoyyim, Rahimullah, sbb ;
  1. Terhalangnya ilmu agama karena ilmu itu cahaya yang diberikan Allah SWT di dalam hati, dan maksiat mematikan itu.
  2. Terhalangnya rezki, seperti dalam hadits riwayat Imam Ahmad : "Seorang hamba bisa terhalang rezkinya karena dosa yang menimpanya".
  3. Perasaan alienasi pada diri si pendosa yang tiada tandingannya dan tiada terasa kelezatan.
  4. kegelapan yang di alami oleh tukang maksiat di dalam hatinya seperti perasaan di kegelapan malam.
  5. Terhalangnya ketaatan.
  6. Maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahannya.
  7. Maksiat akan melahirkan maksiat lain lagi, demikian kata ulama` salaf : Hukum kejahatan adalah kejahatan lagi sebagaimana kebaikan akan melahirkan kebaikan lagi.
  8. Orang yang melakukan dosa akan terus berjalan ke dalam dosanya sampai dia merasa dirinya hina. Itu pertanda-tanda kehancuran.
  9. Kemaksiatan menyebabkan kehinaan. Dan kebaikan melahirkan kebanggaan dan kejayaan.
  10. Maksiat merusak akal, sedang kebaikan membangun akal.
  11. dll.
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Kisah Iblis Dengan Nabi Musa

Kisah Iblis Dengan Nabi Musa

Suatu hari ketika Nabi Musa a.s sedang berada dimajlisnya , tiba-tiba datang Iblis dengan memakai baju yang dilabuhkan pada kepalanya. Pada saat Iblis telah dekat dengan Nabi Musa a.s , ia menanggalkan pakaiannya itu. Maka terjadilah tanya jawab antara Nabi Musa a.s dengan Iblis Itu.
Iblis : " Assalamu'alaika , wahai Musa. "
Nabi Musa : " Siapa kamu? "
Iblis : " Saya Iblis "
Nabi Musa : " Allah SWT tidak menghormat engkau. Untuk apa engkau datang? "
Iblis : " Aku datang untuk mengucapkan salam kepadamu di atas ketinggian tempat dan kedudukkanmu di sisi Allah SWT. "
Nabi Musa : " Kapan engkau dapat menghalangi manusia yang akan melakukan sesuatu? "
Iblis : " Apabila seseorang itu merasa taajjub terhadap dirinya dan ia berlaku sombong maka lupalah ia akan dosanya. "
Seterusnya Iblis tersebut memberikan tiga peringatan kepada Nabi Musa a.s iaitu :-
1. Janganlah sesekali engkau berkhalwat dengan perempuan yang tidak halal bagimu. karena tidaklah berdua-duaan seorang lelaki dengan seorang perempuan yang tidak halal baginya melainkan aku menemaninya ( menjadi pihak ketiga ) tanpa teman-temanku yang lain sehingga aku membuat fitnah terhadap keduanya.
2. Janganlah engkau berjanji ( bernazar ) kepada Allah SWT. melainkan engkau memenuhinya. karena tidaklah berjanji seseorang kepada Allah SWT. melainkan aku menemaninya tanpa teman-temanku yang lain , maka akulah yang menjadi dinding penghalang antara orang itu dengan janjinya sehingga janji itu tidak dapat ditunaikan.
3. Janganlah sekali-sekali engkau mengeluarkan sedekah melainkan apa yang engkau sayangi ( barang yang baik-baik ) karena sesungguhnya tiadalah seorang itu mengeluarkan sedekah sedangkan dia menyayanginya melainkan aku sendirilah tanpa teman-temanku yang membuat tidak terlaksananya sedekah itu.
Selepas berkata demikian , Iblis itu berpaling dan sebelum pergi ia berkata : " Celaka! Celaka ! Celaka ! Musa telah mengetahui apa yang harus diwaspadai oleh anak keturunan Adam. "
Al-Qurasyi berkata : " Aku mendengar sesungguhnya syaitan berkata kepada orang perempuan : " Engkau adalah separuh daripada tenteraku. Engkaulah anak panahku yang kugunakan untuk memanah ( manusia ). Aku tidak salah menjadikan engkau untuk mengetahui segala rahasia dan engkaulah utusan untuk menyampaikan hajatku. "

BACALAH DAN TULISLAH!

BACALAH DAN TULISLAH!
oleh : Mbak Welly

Sesungguhnya, menulis adalah \'anak kandung\' membaca. Dengan banyak membaca banyak pula hal yang dapat kita tulis. Ibarat bercocok tanam, membaca adalah proses menanam, sedangkan menulis adalah buahnya. Kebangetan deh kalo kita nggak ingat dengan perintah pertama yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya di gua Hira? (QS Al-Alaq ayat 1-5) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam (pena/pulpen). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Keinginan manusia untuk menuliskan sesuatu yang ada dalam benaknya adalah fitrah. Sejak jaman dahulu kala, kegiatan baca tulis sudah berlangsung. Sekitar 4000 tahun sebelum Masehi, Bangsa Sumeria yang tinggal di lembah Sungai Tigris dan Eufrat merupakan bangsa yang pertama kali menciptakan tulisan. Bentuk tulisannya segi tiga seperti paku. Media yang dipake buat nulis bukan kertas (apalagi kertas print-out komputer) tapi lempengan tanah liat lunak lalu dijemur. Isi naskahnya pun macam-macam, ada perjanjian bisnis (ingat perintah Allah untuk menuliskan hutang piutang dalam QS al-Baqarah 282), ada kalender pertanian, ada resep obat sampai peraturan atau hukum. Wuiihh...canggih, ya? Seiring perkembangan budaya, bangsa lain pun mengenal aktivitas tulis menulis ini. Karenanya ada tulisan paku dari Bangsa Assyria, goresan naskah Bangsa Hittite, tulisan Hieroglif dari Bangsa Mesir dan juga guratan serupa dari Bangsa Indian Aztec, Maya dan Inca di Amrik Selatan dan Tengah. Dan jangan lupa, banyak lho prasasti (batu bertulis) yang ditemukan para arkeolog di negeri kita. Misalnya Prasasti Yupa dari Kerajaan Kutai, Kalimantan; Prasasti Purnawarman dari Kerajaan Taruma, Jawa Barat; Prasasti Dinoyo dari Jawa Timur, Prasasti Kedukan Bukit dari Kerajaan Sriwijaya dan masih banyak lagi.... Dari kegiatan tulis menulis ini, sekarang kita semua menikmati hasilnya yang asyik. Ada buku tulis berbagai merek dan bentuk, ada disket, ada microfilm, ada e-mail, ada powerbook dan masih banyak lagi. Semua penemuan alat tulis ini memudahkan dan memanjakan sohib semua. Nggak kebayang kan kalo bikin catetan sekolah aw (atau, dari bhs. Arab) kuliah, sobat sobit ngegembol lempengan tanah liat atau batu. Bisa terseok-seok deh jalannya, emangnya truk pengangkut bahan bangunan? Sesungguhnya menulis adalah \'anak kandung\' membaca. Janganlah sobat sobit mengartikan membaca secara sempit. Sesungguhnya, ia memiliki arti luas. Disini, membaca tidak hanya melibatkan organ tubuh yang disebut mata (plus kacamata bagi yang udah nggak sempurna). Tetapi terlibat juga organ telinga dan \'hati\'. \"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah)....\" (QS &:179) Nah, udah tahu kan ternyata modal membaca nggak cuma mata. Betapa banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang bisa kita tarik hikmahnya bila kita memanfaatkan mata, telinga dan hati. Misalnya, keteraturan gerak benda-benda langit menunjukkan, ketaatan pada hukum Allah akan membawa ketentraman sejak jaman mereka diciptakan sampai nanti tibanya masa kiamat. Karena mereka patuh kepada Allah, nggak pernah kan terjadi tawuran antar benda langit? Disana nggak pernah terjadi saling rusak karena ingin memamerkan kekuatannya dan ingin menundukkan benda lain. Iya kan? Makanya, taatlah kepada aturan Allah, dijamin bahagia.... Sesungguhnya, menulis adalah \'anak kandung\' membaca. Siapa pun tahu kalo menulis mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan berbicara. Yaitu: 1. Pesan yang disampaikan lebih akurat sesuai dengan keinginan si penulis. 2. Lingkup jangkauannya lebih luas apalagi jika diedarkan ke seluruh dunia. 3. Jangka waktu penyampaian pesan lebih lama sesuai dengan keberadaan si tulisan. Menyadari manfaat menulis yang sedemikian besar, sejarah Islam dihiasi oleh aktivitas tulis menulis yang luar biasa. Karena itulah Khalifah Utsman ra menghimpun dan membuat standar mushaf al-Qur\'an sehingga kaum muslimin di seluruh dunia hingga hari kiamat dapat membaca kitab sucinya dalam satu versi. Karena itulah Imam Bukhari merintis penulisan kitab Shahihnya agar kaum muslimin dapat mengetahui hadits Rasulullah saw. Karena itulah Imam At-Tabari menyusun kitab Sirahnya agar kaum muslimin meneladani perihidup Nabi Muhammad saw. Pokoknya, kalo mo diuraian seluruh karya tulis umat Islam, waahh....nggak sanggup, deh! Ngomong-ngomong, ada lho kegiatan menulis yang dilaknat oleh Allah. Apa, ya? \"Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: \"Ini dari Allah\", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.\" (QS 2: 79) Banyak lho perbuatan menulis yang haram. Pasti deh sohib semua tahu. Yap...segala yang mengundang kepada perbuatan keji dan mungkar itu haram ditulis. Wah, kalo gitu, buku itu amat penting dong bagi kehidupan kita. Betul sekali! Seluruh gerak gerik yang terjadi di alam semesta ini tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). Baca deh QS 6 ayat 59. Dan khusus buat manusia, dia selalu berhubungan dengan penulisan dan buku. Buku yang mana tuh? Kelak di Yaumil Hisab (Hari Perhitungan) seluruh manusia - muslim aw kafir- akan mendapat buku. Gratis, akurat banget tapi dahsyat. Buku catatan ini akan menentukan tempat kita, surga or neraka. Biar manteb (pake b), simak kitab al-Qur\'an-mu, lengkapnya di QS 17:71; QS 39:69; QS 45:28-29; QS 50: 16-17; QS 54: 52; QS 69:25; QS 78: 29; QS 84: 7 & 10. Sesungguhnya, menulis adalah \'anak kandung\' membaca. Jadi, banyaklah membaca bacaan yang diridhoi-Nya lalu menuliskannya biar kamu tambah pinter dan tambah menyebar dakwahnya. Dan jangan lupa...ini senandung penting buat sobat sobit semua: - lis ditulis tulis, manteb ngingatnya.... - lis ditulis tulis, makin cerdas aja....

memandang ALLAh


MEMANDANG ALLAH
Semua orang Islam percaya bahwa memandang Allah itu adalah puncak segala kebahagiaan karena ada tercatat dalam hukum.  Tetapi bagi kebanyakan orang,   ini adalah berbicara di mulut saja yang tidak menimbulkan rasa dalam hati.   Sebenarnyalah begitu karena bagaimana orang dapat menyintai sesuatu jika ia tidak tahu dan tidak kenal?  Kita akan coba menunjukkan secara ringkas bagaimana memandang Allah itu puncak segala kebahagiaan yang bisa dicapai oleh manusia.
Pertama,  tiap-tiap bakat atau anggota manusia itu ada tugas-tugasnya masing-masing dan ia merasa tertarik dan suka menjalankan tugas itu.  Ini serupa saja sejak dari kehendak badan yang paling rendah hinggalah kepada pengetahuan akal yang paling tinggi.  Usaha mental(otak) yang paling rendah pun mendatangkan ketertarikkan yang lebih dari hanya memuaskan kehendak badan saja.  Kadang-kadang seseorang yang khusuk bermain catur tidak mau makan meskipun ia berkali-kali dipanggil untuk makan.
Makin tinggi perkara pengetahuan kita itu,  maka makin bertambah menarik dan sukalah kita mengusahakan perkara itu.  Misalnya kita lebih berminat untuk mengetahui rahsia Sultan dan rahsia menteri.  Dengan demikian,  oleh karena Allah itu adalah objek atau perkara pengetahuan yang paling tinggi,  maka mengenal atau mengetahui Allah itu mestilah memberi kebahagiaan dan kelazatan lebih daripada yang lain-lain.  Orang yang mengetahui dan mengenal Allah walaupun dalam dunia ini.   seolah-olah di dalam syurga,  "luasnya seperti luas langit" (Al-Qur'an) buah-buahan bebas untuk dipetik,  dalam lebarnya tidak disempitkan oleh penghuninya yang ramai itu.
Tetapi kenikmatan ilmu atau pengetahuan masih tidak menyamai atau menyerupai kenikmatan pandangan sebagaimana ketertarikan kita dalam memikirkan mereka yang bercinta adalah lebih rendah daripada ketertarikan yang diberi oleh memandangnya dengan benar.   Terpenjaranya kita dalam badan kita dari tanah dan air dan terbelenggu kita dalam perkara-perkara indera(pancaindera) menjadikan hijab yang melindungi kita daripada memandang Allah, meskipun tidak menghalang pencapaian kita kepada mengetahui dan mengenalNya.  karena inilah Allah berfirman kepada Nabi Musa di Gunung Sinai;
"Engkau tidak akan dapat melihat aku" (al-Qur'an)
Hakikat perkara ini adalah demikian,  yaitu sebagaimana benih manusia itu menjadi manusia,  dan biji tamar menjadi pokok tamar,  begitu jugalah mengenal Allah yang diperolehi di dunia ini akan bertukar menjadi "Memandang Allah" di akhirat kelak,  dan mereka yang tidak mempelajari pengetahuan itu tidak akan mendapat pandangan itu.  Pandangan ini tidak akan dibagi-bagikan sama rata kepada mereka yang tahu tetapi "konsep pemahaman" mereka tentangnya akan berbeda-beda sebagaimana ilmu mereka.
Allah itu Satu tetapi ia kelihatan dengan berbagai-bagai cara,  sebagaimana satu benda itu terbayang dalam berbagai cara dalam berbagai cermin.  Ada yang lurus,   ada yang bengkok,  ada yang terang dan ada yang gelap.  Sesuatu cermin itu mungkin terlalu bengkok dan ini menjadikan bentuk-bentuk yang cantik kelihatan buruk dalam cermin itu.  Seseorang manusia itu mungkin membawa ke akhirat hati yang gelap dan bengkok,  dan dengan itu pandangan yang menjadi punca kedamaian dan kebahagiaan kepada orang lain,  akan menjadi sumber kesengsaraan dan kedukaan kepadanya.
Orang yang Menyintai Allah sepenuh hati dan Cintanya kepada Allah melebihi Cintanya kepada yang lain akan memperolehi lebih banyak kebahagiaan  daripada pandangan melebihi daripada mereka yang dalam hatinya tidak ada pandagan ini.  Umpama dua orang yang kekuatan matanya sama saja memandang kepada muka yang cantik.  Orang yang telah ada cintanya kepada orang yang memiliki muka itu akan merasa tertarik dan bahagia memandang muka itu melebihi dari orang yang tidak ada cintanya kepada orang yang mempunyai muka itu.  Untuk kebahagiaan yang sempurna,  ilmu saja tidak tidaklah cukup.  Ianya hendaklah disertakan dengan Cinta.  Cinta kepada Allah itu tidak akan tercapai selagi hati itu tidak dibersihkan daripada cinta kepada dunia.  Pembersihan ini dapat dilakukan dengan menahan diri dari hawa nafsu yang rendah dan bersikap zuhud.
Semasa dalam dunia ini,  keadaan seseorang itu terhadap "Memandang Allah" adalah ibarat  orang yang cinta yang melihat muka orang yang yang dicintai dalam waktu senjakala dan pakaiannya penuh dengan penyengat dan kala yang sentiasa menggigitnya.  Tetapi sekiranya matahari terbit dan menunjukkan muka yang dicintai dengan segala keindahannya,  dan penyengat serta kala itu telah lari darinya,  maka kebahagiaan orang yang cinta itu adalah seperti hamba Allah yang terlepas dari gelap senja dan azab cobaan di dunia ini,  lalu melihat dia tanpa hijab lagi.
Abu Sulaiman berkata;
"Siapa yang sibuk dengan dirinya sendiri saja di dunia ini,  akan sibuk juga dengan dirinya di akhirat kelak;  dan siapa yang sibuk dengan Allah di dunia ini akan sibuk juga dengan Allah di akhirat kelak".
Yahya bin Mu'adz menceritakan;
"Saya lihat Abu Yazid Bustomin sembahyang sepanjang malam.  apabila beliau telah habis sembahyang,  beliau berdoa dan berkata; "Oh Tuhan!!!  Setengah dari hambaMu meminta padaMu kuasa untuk membuat sesuatu yang luar biasa(karamat) seperti berjalan di atas air,   terbang di udara;  tetapi aku tidak meminta itu;  ada pula yang meminta harta karun,  tetapi aku tidak meminta itu;  kemudian ia memalingkan mukanya dan setelah dilihatnya saya,  ia berkata;  "Kamu di situ Yahya?"  Saya menjawab;  "Ya!"  Beliau bertanya lagi;   "Sejak bila?"  Saya menjawab;  "Telah lama saya di sini"  Kemudian saya bertanya dan beliau menceritakan kepada saya setengah daripada pengalaman keruhaniannya.
"Saya akan menceritakan"  Jawab beliau.  "Apa yang boleh saya ceritakan kepadamu,  Allah Subhahahuwa Taala menunjukkan aku kerajaanNya dari yang paling tinggi hingga ke paling rendah.  DiangkatNya saya melampaui Arash dan Kursi dan tujuh petala langitnya,   kemudian Ia(Allah) berkata;  "Pintalah kepadaKu apa saja yang engkau kehendaki".  Saya menjawab; "Ya Allah!!! tidak akan saya minta apa pun melainkan Engkau".   JawabNya(Allah);   "Sesungguhnya engkau hambaKu yang sebenar".
Pada suatu ketika pula Abu Yazid berkata;
"Sekiranya Allah mengurniakan engkau kehampiran denganNya seperti Ibrahim,  kekuasaan Sholat Musa,   keruhanian 'Isa,  namun wajahmu hadapkanlah kepada Dia saja karena ia ada harta yang melampaui segala-galanya itu"
Suatu hari seorang sahabatnya berkata kepada beliau;  "Selama tiga puluh tahun saya puasa di siang hari dan sembahyang di malam hari tetapi saya tidak dapati kelazatan keruhanian yang engkau katakan itu".
Abu Yazid menjawab;  "Jika engkau puasa dan sembahyang selama tiga ratus tahun pun,  engkau tidak akan mendapatkannya".
Sahabatnnya berkata;  "Bagaimanakah itu?"
Kata Abu Yazid;  "obatnya ada tetapi engkau tidak akan sanggup menelannya obat itu".  Tetapi oleh karena sahabatna itu bersungguh-sungguh benar memminta supaya diceritakan,  Abu Yazid pun berkata;  "Pergilah kepada tukang gunting dan cukurlah janggutmu itu;  buangkan pakaianmu itu kecuali seluar dalam saja.  Ambil satu kampit penuh yang berisi "Siapa yang mahu menempeleng kuduk leherku dia akan mendapat buah ini"  Kemudian dalam keadaan ini pergilah kepada Kadi dan ahli syariat dan berkata;  "Berkatilah Ruhku".
Kata sahabatnya;  "Tidak sanggup saya berbuat demikian,  berilah saya cara yang lain".
Abu Yazid pun berkata;  "Inilah saja caranya,  tetapi seperti yang telah saya katakan kamu ini tidak dapat diobat lagi".
Sebab Abu Yazid berkata demikian kepada orang itu ialah karena orang itu sebenarnya pencari pangkat dan kedudukan.  Bercita-cita hendak pangkat dan kedudukan seperti bersikap sombong dan bangga adalah penyakit yang hanya dapat diobat dengan cara yang demikian itu.
Allah berfirman kepada Nabi 'Isa;
"Wahai 'Isa!   Apabila Aku lihat dalam hati hambaKu cinta suci murni kepadaKu tanpa dicampur aduk dengan kepentingan diri sendiri terhadap perkara dunia atau akhirat,  maka Aku menjadi Penjaga kepada Cinta itu".
Apabila orang bertanya kepada Nabi 'Isa;  "Apakah kerja yang paling tinggi sekali darjatnya?"  Beliau menjawab;  "Mencintai Allah dan tunduk kepadaNya".
Suatu ketika orang bertanya kepada Wali Allah bernama Rabi'atul Adawiyah sama ada beliau cinta kepada Nabi Muhammad SAW.  Beliau menjawab; "Cinta kepada Allah menghalang aku cinta kepada makhluk".
Ibrahim bin Adham dalam doanya berkata;  "Ya Allah!  pada mataku syurga itu sendiri lebih kecil dari agas jika dibandingkan dengan Cintaku terhadapMu dan kelazatan mengingatiMu   yang Engkau telah kurniakan kepadaku".
Siapa yang  menganggap ada kemungkinan menikmati kebahagiaan di akhirat tanpa mencintai Allah adalah orang yang telah jauh sesat anggapannya,  karena segala-galanya di akhirat itu adalah kembali kepada Allah dan Allah itulah matlamat yang dituju dan dicapai setelah melalui halangan yang tidak terhingga banyaknya.  Nikmat memandang Allah itu adalah kebahagiaan.  Jika seseorang itu tidak suka kepada Allah di sini,  maka di sana pun ia tidak suka juga kepada Allah.  Jika sedikit saja sukanya  kepada Allah di sini,  maka sedikit jugalah sukanya kepada Allah di sana.  Pendeknya,  kebahagiaan kita di akhirat adalah bersesuaian dengan kadar Cintanya kita kepada Allah di dunia ini.
Sebaliknya jika dalam hati manusia itu ada tumbuh cinta kepada  apa saja yang berlawanan dengan Allah,  maka keadaan hidup di akhirat sana akan berlainan dan ganjil sekali kepadanya dan dengan ini apa saja yang mendatangkan kebahagiaan kepada orang lain,  akan mendatangkan 'azab sengsara kepadanya.  Mudah-mudahan Allah lindungi kita dari terjadi sedemikian itu.
Ini bolehlah kita gambarkan dengan misalan seperti berikut;
Seorang pengangkut sampat-sarap pergi ke kedai yang menjual minyak wangi.  Apabila beliau membawa bau-bauan yang harum wangi itu,  ia pun jatuh dan tidak sadar diri.   Orang pun datang hendak memberi pertolongan kepadanya.  Air Ros dipercikkan kemukanya dan dihidungnya diletakkan kasturi.  Tetapi beliau bertambah teruk.   Akhirnya datanglah seorang pengangkut sampah juga,  lalu diletakkan sedikit sampah kotor di bawah hidung orang yang pengsan itu.  Dengan segera orang itu pun sadar semula sambil berseru dengan rasa puas hati,  "Wah! Inilah sebenarnya wangi!"
Demikian jugalah,  ahli dunia tidak akan menjumpai lagi karat dan kotor dunia ini diakhirat.  Kelazatan keruhaniah alam sana berlainan sekali dan tidak sesuai dengan kehendaknya.  Maka ini menjadikannya bertambah teruk dan sengsara lagi.  karena alam sana itu adalah alam ruhaniah dan penzhohiran Jamal (keindahan) Allah Subhanahuwa Taala.  Berbahagialah mereka yang ingin mencapai kebahagiaan di sana itu dan menyesuaikan dirinya dengan alam itu.  Semua sikap zahud,  menahan diri ibadah,   menuntut ilmu adalah bertujuan untuk mencapai penyesuaian itu dan penyesuaian itu adalah cintanya.  Inilah maksud Al-Quran:
"Berbahagialah orang yang mencucikan jiwanya".
Dosa dan maksiat berlawanan benar dengan penyesuaian ini.  Oleh itulah termaktub dalam Al-Quran:  "Sesungguhnya rugilah orang yang mengotori jiwanya."  Orang yang dikurniai dengan mata keruhanian telah nampak hakikat ini dalam rasa pengalaman mereka bukan hanya kata-kata yang diterima turun-menurun sejak dahulu lagi.  Pandangan mereka itu membawa kepercayaan bahwa orang yang berkata demikian adalah sebenarnya Nabi;   ibarat orang yang mengkaji ilmu perobatan;  akan tahu adakah orang yang bercakap berkenaan perobatan itu sebenarnya doktor atau pun bukan.  Ini adalah jenis keyakinan yang tidak perlu disokong dengan mukjizat atau perbuatan yang mencarik adat karena yang  demikian pun dapat dilakukan juga oleh tukang sihir atau tukang silap mata.